Logo PersibanggaFC.com
Logo persibangga

Persibangga Purbalingga

Laskar Jenderal Soedirman

Sepakbola memang bukan matematika. Sepakbola juga selalu menyajikan drama. Itu juga terjadi di Stadion Bumi Kartini, Minggu (7/5). Persibangga-tim urutan buncit klasemen Grup 3 Liga 2 harus bertanding dihadapan ribuan suporter Persijap.
Semua berharap-harap cemas. Termasuk segelintir suporter Persibangga yang sore itu hadir dan memberikan dukungan bersama Komisaris Persibangga H Tasdi SH MM.
Persijap bertanding dengan aura optimisme. Tim berjuluk Laskar Kalinyamat telah mengantongi dua kemenangan dari dua laga yang dilakoni. Terakhir Persijap mampu membungkam tuan rumah Persibas (Banyumas) di Stadion Satria Purwokerto 2-1 , Minggu (30/4) lalu. Sebelumnya di laga perdana di kandangnya, eks Tim Liga Super tersebut juga mampu menaklukkan PSGC (Ciamis) dengan skor telak 4-1.
Sementara Persibangga adalah tim yang compang-camping. Dua kekalahan diderita tim berjuluk Laskar Soedirman. Masing-masing 0-2 di kandang Persibat (Batang) di Stadion M Sarengat, Minggu (23/4) dan 0-2 atas tim PSS Sleman di Stadion Goentoer Darjono Rabu (26/4).
Dua kekalahan itu juga membuat Komisaris Persibangga H Tasdi SH MM tak nyaman. Dia menginstruksikan agar manajemen dirombak. H Rokhman Supriyadi SE yang semula hanya duduk di CEO diserahi tugas menjadi manager menggantikan Dony Eriawan. Di lain pihak, duet pelatih Lilik Suheri dan Amrico memilih mundur.
Kondisi tersebut membuat Persibangga seperti ayam kehilangan induk. Namun langkah cepat segera diambil. Rokhman memanggil Achmad Muhariyah untuk menukangi Persibangga. Mantan pemain PSIS (Semarang) tersebut datang sekitar lima hari sebelum Persibangga bertanding ke Jepara.
Tidak hanya itu Rokhman juga memanggil sejumlah pemain “old crack” yang pernah mengharu biru di Persibangga. Masing-masing Farikhin, Anggi Prabowo dan Gunaryo. Dua nama terakhir adalah pemain asal Purbalingga. Dia juga mendatangkan stoper eks tim PON Jateng Ahmad Fahmi Gelorawan. Mereka dipadu bersama eks pemain rekrutan Lilik Suheri yang kebanyakan adalah pemain asal Makasar dan Medan.
Tugas yang tidak mudah bagi Muhariyah. Namun nama Muhariyah memiliki romantisme dengan pendukung Persibangga. Pelatih flamboyan ini pernah mengecap manis prestasi saat menjadi pelatih Persibangga di Divisi I dan Divisi utama. Ketika Muhariyah datang, suporter yang berulang kali menyerukan pembenahan permainan seperti memberikan dukungan.
Dalam berbagai kesempatan Rokhman dan Muhariyah sering berdiskusi dengan penulis. Mereka sepakat materi pemain yang diracik Lilik Suheri memiliki kualitas yang baik. Namun mereka belum menyatu. “Perlu ada penyatuan hati,” kata Rokhman.
Berbagai upaya dilakukan untuk membenahi sisi non teknis tersebut. Mulai dengan mengajak diskusi dan melaksanakan ibadah shalat berjamaah. Muhariyah yang bertanggung jawab di sisi teknis juga mulai memformulasi pemain yang ada. Termasuk diantaranya menjadikan Muaziz Syafii penjaga gawang senior kelahiran Purbalingga yang selama ini duduk di bangku cadangan. “Bleki” sapaan Muaziz dianggap memiliki semangat juang dan teknik yang memadai.
Sementara itu Farikhin walau sempat cidera dan Gunaryo yang dianggap sudah habis juga digenjot untuk turun ke lapangan lagi membawa panji Persibangga. Mereka bahu membahu bersama pemain Makasar dan Medan yang lebih dahulu masuk tim.
Itu juga yang diturunkan saat mereka masuk ke lapangan Stadion Bumi Kartini. Muhariyah memadukan duet Gunaryo dan Saptono sebagai duet striker. Duet ini juga seperti mengingatkan sebuah memori indah. Karena duet ini pernah sukses di tim PON Jateng. Berkat produktivitas gol mereka, tim sepakbola Jateng mampu meraih medali Perunggu di PON Riau tahun 2012.
Laga di Stadion Bumi Kartini sore itu menjadi pertandingan yang tidak mudah. Persijap yang merupakan tim matang dan didukung ribuan suporter langsung membombardir pertahanan Persibangga. Namun pemain Persibangga seperti tidak terpengaruh. Seperti gaya perang gerilya Jenderal Besar Soedirman, mereka mempertahankan jengkal demi jengkal wilayah pertahanan dari serbuan striker Persijap yang begitu haus gol.
Sore itu pemain Persibangga bermain begitu tenang dan bersemangat. Sementara di tribun atas Komisaris Persibangga H Tasdi SH MM menyaksikan timnya bertanding. Wajah-wajah cemas dari pendukung Persibangga terlihat jelas. Terlebih di babak kedua pemain tuan rumah semakin bernafsu untuk menggempur pertahanan Persibangga. Muhariyah, Rokhman, asisten pelatih Sigit Pratama, pelatih fisik Kurniawan Sukawijaya dan pelatih kiper Triyono juga terlihat gelisah. Mereka terus mencermati pertandingan. Waktu seperti berjalan begitu lambat. Sesekali mereka mensuport pemain untuk tetap tegar dan bermental baja untuk tidak menyerah.
Di menit 82, pemain dan suporter Persijap terbungkam. Pemain mungil Persibangga yang juga anggota TNI, Amin Aksal mampu melesakkan gol ke gawang Persijap. Gol pertama yang juga menjadi embrio kemenangan pertama Persibangga. Kemenangan yang disambut hingar bingar.
Kemenangan yang membangitkan kembali Persibangga dari kuburnya. “Persibangga belum habis” itu menjadi trending topik di media sosial menanggapi kemenangan Persibangga di kandang Persijap. Kemenangan yang diharapkan menjadi titik balik.
Namun pesta harus segera diakhiri. Pertandingan selanjutnya sudah menunggu. Persibangga akan menjamu PSGC (Ciamis) di Stadion Goenteor Darjono, Kamis (11/5). Kemenangan atas Persijap menjadikan anak-anak Soedirman bisa melangkah dengan kepala tegak menghadap Laskar Galuh. Lawan yang tidak mudah namun juga tidak mungkin tak bisa dikalahkan.
Itu sudah dibuktikan Saptono dan kawan-kawan di kandang Persijap. Di kandang sendiri Persibangga harus mampu menjinakkan PSGC. Tugas yang tidak ringan buat Ahmad Muhariyah dan Rokhman Supriyadi. Mereka harus menunjukkan bahwa Persibangga benar-benar telah bangkit dari kubur.

Joko Santoso
Wartawan, pemerhati sepakbola dan Media Officer Persibangga

Leave a Reply